Beranda Opini Mengingatkan Kembali Arah Perjuangan Aktivis Mahasiswa

Mengingatkan Kembali Arah Perjuangan Aktivis Mahasiswa

0
Foto :Badri Hasan, S.HI., M.H Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Hukum Unsyiah sekaligus Dosen tetap di Fakultas Syari"ah dan Hukum Fsh. UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh : Badri Hasan, S.HI., M.H.

Muhammad Hatta, menegaskan perguruan tinggi tugas utamanya, adalah (1).Membentuk manusia susila dan demokrat yg mempunyai keinsafan tanggungjawab atas kesejahteraan Masyarakat,
(2). Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan,
(3).Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.

Makna pemikiran Hatta, dapat diketahui bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah menciptakan insan-insan akademis, pencipta dan pengabdi.

Sense of crisis, nyakni peka dan kritis terhadap masalah-masalah sosial kemasyatakatan yang terjadi di sekitarnya saat ini dan selalu mengembangkan dirinya menjadi generasi yang tanggap, mampu menghadapi tantangan masa depan.

Makna Insan Akademis

Dunia kampus terkenal dengan kekhasnya dunia akademisi. Dalam pergumulan aktivitas keakademisannya, disana nampak terlihat ada para dosen dan mahasiswa, yg selalu terlibat diskusi di ruang perkuliahan. Namun setelah proses balajar teori di ruang kuliah selesai, para aktivis mahasiswa pun pergi menerapkan ilmu yg sudah dipelajarinya dan didapatkannya, untuk mengabdi kepada masyarakat, agama, nusa dan bangsa. Diluar sana para aktivis mahasiwa bergabung ke berbagai organisasi kemahasiswaan, baik yang sifatnya internal nyakni; melalui organisasi Badan Eksekutif Mahasiwa (BEMA), Senat Mahasiswa (SEMA), dan Organiasi himpunan tertentu berdasarkan spesifikasi prodi dan keilmuan tertentu yg menjadi pilihannya. Dan organisasi ekternal yang struktur kepengusannnya terdapat diluar struktur perguruan tinggi, seperti HMI, KAMMI, IMM, PII dll.

Para aktivis mahasiwa dapat melaksanakan visi/misi perjuangannya lewat berbagai organisasi, bahkan dewasa lebih dipermudah lagi dengan hadirnya berbagai media, baik elektronik maupun non elektronik sehingga dengan mudah dapat dimanfaatkannya untuk menyalurkan aspirasi dan perjuangannya.

Sebagai Insan akademis, para aktivis mahasiwa mendasari setiap arah perjuangan berasaskan watak keilmuan, mahasiswa mencari nilai-nilai kebenaran dan menjaganya, kemudian meneruskannya kepada masyarakat dalam bentuk pengabdiannya.

Sifat Berpikir Akademis

Berpikir akademis adalah upaya mempertahankan nilai2 keilmiahan dan rasionalitas, antara nilai2 idialisme berhadapan dengan nilai2 realisme, nyakni antara nilai dassolen konseptual dan dunia dassein “paktek/terjadi dilapangan.

Para aktivis mahasiswa adalah manusia yg selalu berpikiran kritis “sense of krisis, bermakna peka dan mampu membaca setiap fenomena yg berkembang disekitarnya serta mempunyai preditabilitas yang mampuni/menangkal setiap opini/asumsi atau isue2 yg tidak benar. Para aktivis harus mempunyai sense of belongin yg tinggi agar mampu menyikapi setiap persoalan2 ketidakadilan sosial politik dan ekonomi dll., akibat tirani kekuasaan yg absolut.

Lahirnya Perjuangan pergerakan mahasiswa dari masa kemasa pada prinsipnya mempunya visi, misi, dan tujuan yg sama nyakni untuk membela dan melindungi kepentingan rakyat dari ketidakadilan dan kebijakan penguasa yg tidak demokrasi. Sebagai sebuah kelompok stategis yang terpelajar mahasiswa juga harus mampu menawarkan konsep, bukan hanya sekedar mampu melalukan kritik2 yg tajam terhadap kebijakan pemerintah, disamping demo terkadang harus ditempuh sebagai solusi terakhir.

Evaluasi Arah Perjuangan

Pangaruh stigma pergerakan aktivis mahasiswa yg identik dengan aksi. Para aktivis mahasiswa sering terjebak oleh romantisme sejarah, bahwa dipahami, semata2 bahwa perjuangan mahasiswi harus melalui aksi demo, keberhasilan perjuangan mahasiswa terbukti mampu meruntuhkan diktator rezim orde lama tahun 1966 di jaman Soekarno, pun rezim orde baru pada tahun 1998 di jaman Soeharto, yang akhirnya melahirkan orde reformasi.Namun perlu diingat sejarah perjuangan mahasiswa juga tidak jarang mengalami kegagalan, misalnya pada tahun 1974 (Peristiwa Malari) dan 1978/1979 (NKK/BKK). Perjuangan para aktivis mahasiswa untuk menurunkan presiden pada saat itu, berakhir dengan beberapa aktivis mahasiswa dimasukkan kedalam penjara, seperti Hariman Siregar, Rizal Ramli, Heri Akhmadi, Al Hilal Hamdi, dkk.

Oleh karnanya yang harus dipahami, bahwa perjuangan mahasiswa dari masa kemasa tidak bisa disamakan, karena ada kondisi dan varibel2 tertentu yg sangat menentukan atau tidak menentukan pada saat tersebut.

Contoh gerakan mahasiswa di era 1966 yg telah tersebut diatas, adalah pada masa ORLA diantatanya terdapat dukungan militer terutama TNI AD dan juga pihak asing (CIA dan sebagainya), sedangkan tahun 1998 dipengaruhi oleh situasi krisis moneter dan juga masalah2 kesenjangan sosial, yg pada wkhirnya menular pada masalah2 lainnya, juga tentunya dipengarui isue kedaerahan seperti pelanggaran HAM berat di Aceh “ektra ordinary craem” yg melibat aktor pemerintah didalamnya, begitu kerusuhan-kerusuhan di berbagai daerah lainnya.

Kondisi perjuangan mahasiswa, aksi-aksi mahasiswa selama ini terlihat bersifat sporadis dan reaktif, serta tidak berorientasi jangka panjang, isue2 yg diusung pun seringkali tidak berfokus pada isue bersama, keterlibatan masyarakat pun tidak ada di dalam kancah perpolitikan tersebut, padahal kekuatan rakyat tentulah sangat dahsyat dalam melakukan perjuangan, mahasiswa disini hanya sebagai pencetus dan pelopornya, dan selanjutnya bersama-sama dengan rakyat berjuang.

Pada setiap perjuangan para aktivis mahasiwa harus mengenal dan perlu melibatkan tokoh-tokoh yang pro terhadap perubahan untuk perbaikan negeri ini. Dan perlu mewaspadai adanya kelompok oportunis yang ikut bermain, mencoba memboncengnya!, para kalangan status quo dan oportunis agar tidak terlibat dalam setiap perjuangan, karena kegagalan pasca reformasi 1998 tidak terulang kembali dimasa2 yg akan datang

Mahasiswa pada prinsipnya adalah manusia yg belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik praktis. Maka perlu menghindari agar tidak terlibat politik praktis dg politisi dan penguasa.

Peran dan Fungsi Mahasiswa

1. Agent Of Change (Generasi Perubahan) adalah mahasiswa sebagai agen perubahan, artinya jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, maka mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan disiplin ilmunya dalam membantu pembangunan indonesia untuk menjadi lebih baik

2. Social Control (Generasi Pengontrol)
Para aktivis mahasiswa berfungsi mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar, pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan dengan lingkungan, agar mampu mengkritik, memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan dan garis2 hukum, memiliki kepekaan, kepedulian, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar tentang kondisi yang teraktual. harapan bangsa, yaitu menjadi orang yang senantiasa mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti.

3. Iron Stock (Generasi Penerus)
Para aktivis mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya di pemerintahan kelak. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan bangsa Indonesia.

Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Dalam hal ini mahasiswa diartikan sebagai cadangan masa depan. Pada saat menjadi mahasiswa kita diberikan banyak pelajaran, pengalaman yang suatu saat nanti akan kita pergunakan untuk membangun bangsa ini.

4. Moral Force (Gerakan Moral)
Para aktivis mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, Para aktivis mahasiswa diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang menyimpamg dari norma yang ada, maka mahasiswa dituntut untuk merubah dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Mahasiswa sendiripun harus punya moral yang baik agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan juga harus bisa merubah ke arah yang lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk, baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi.

Mahasiswa sebagai bagian dari kelompok stategis, pilar penegak masyarakat madani “civil society”, adalah satu2nya kekuatan perjuangan yang masih dapat diharapkan oleh rakyat, ketika tidak ada lagi harapan dan sandaran bagi rakyat untuk mengadu, maka mahasiswa harus tetap menjaga kekompakannya, menjaga integritasnya dan indepedensi dalam setiap perjuangan tanpa ter kotak kotak!

Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Hukum Unsyiah sekaligus Dosen tetap di Fakultas Syari”ah dan Hukum Fsh. UIN Ar-Raniry Banda Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here