Beranda Opini UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH DI AMBANG PILU

UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH DI AMBANG PILU

0
Foto : Ardi Mansyah (Aktifis sekaligus Mahasiswa Pertanian Serambi Mekkah Banda Aceh)

Oleh : Ardi Mansyah (Aktifis Universitas Serambi Mekah)

Membaca berita kebangkrutan Sevel (Seven Eleven) penulis terbayang akan nasib Universitas karena bisa saja berita duka itu menimpa Universitas serambi mekkah, bahkan saat ini pun tanda – tandanya sudah mulai terlihat dengan meredupnya Universitas yang amat terasa bagi Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Universitas serambi mekkah.

Kembali kepersoalan tutupnya SEVEL, Sevel tutup tanggal 30 Juni 2017 karena berbagai faktor internal dan eksternal. Secara internal bisa saja disebabkan karena lemahnya perencanaan, Akan tetapi hal itu disebabkan oleh faktor eksternal terutama regulasi pemerintah yang tidak kondusif terhadap ekspansi Sevel. Faktor eksternal inilah yang paling mengerikan.

Begitu juga dengan kondisi Universitas, Bila dilihat sekedar berjalan terutama dalam hal pengajaran kampus bisa saja tak ada masalah apapun, setiap hari mahasiswa masuk kelas dan dosen menyampaikan materi perkuliahan secara rutin.

Namun kali ini penulis mencoba menyampaikan pesan hegemoni cinta terhadap universitas melalui tulisan ini. Kondisi Kampus Di Ambang Pilu, dan siapa yang akan menjamin kampus tetap berdiri kokoh hari ini bahkan 5 ataupun sampai dengan 10 tahun kedepan ? ini akan menjadi tanda tanya besar bagi mahasiswa dan juga birokrat universitas, dan hal ini tidak bisa siapapun yang menjamin bahkan penulis sendiri pun tak bisa menjawabnya.

Dari sekian banyak persoalan yang terjadi di universitas mulai dari isu pembangunan dan akreditasi universitas bak isu usang yang dipanggang agar tak basi dibicarakan. Siapa yang akan menyelesaikannya ?
Dilanjuti dengan faktor pendukung pengajaran dikampus baik itu Laboratorium dan faktor pedukung lainnya yang kian hari tak ada daya apapun ini salah satu penyebab lulusan sarjana Universitas Serambi Mekkah bagaikan sampah masyarakat yang tidak punya kapasitas apapun walaupun itu kembali ke pribadi sang sarjana namun apa yang diberikan mahasiswa kepada universitas tak berbanding lurus terhadap apa yang kampus berikan kepada mahasiswa. Paling kuat sang sarjana menjadi politikus dan juga menjadi pengusaha itupun jika memiliki modal, Nah bagaimana dengan ribuan lulusan lainnya ?
Kondisi tersebut diatas mengakibatkatkan proses belajar hanya berkutat di pengajaran padahal tanpa kekuatan riset Universitas menjadi mandul dan tidak mampu mengasah kemampuan inovasi Mahasiswa.

Kegiatannya tidak banyak berbeda dengan kursus – kursus yang hanya mengasah kognitif, bukan kreativitas. Tidak hanya dengan Universitas Serambi Mekkah kampus – kampus di USA Amerikapun yang tidak kuat dalam riset mengalami nasib yang serupa. Mahasiswa cenderung mengikuti kata dosen. Lagu “My Way” di pelesetkan menjadi “Their Way”.

Belum lagi dengan kondisi Universitas-universitas yang defisit anggaran hal ini disebabkan tabungan domestic Universitas tidak dikelola dengan baik oleh pihak Yayasan selaku pengelola keuangan Universitas sehingga neraca pembayaran tidak seimbang. Perihal defisit anggaran universitas ditandai dengan banyakya gedung Universitas yang sudah terjual.

Kondisi ini sangat ironis penulis selaku mahasiswa di Universitas Serambi Mekkah merasa sangat terharu dengan kondisi universitas saat ini. Persoalan ini bisa berakibat tutup nya proses belajar mengajar di universitas dikarenakan kebangkrutan universitas. Efek besar ini pasti akan terjadi jika mahasiswa hanya selalu berkutat didalam zona nyamannya. Mari kita bersinergi bersama membangun universitas serambi mekkah lebih baik.

Dengan kondisi Universitas yang kian hari kian memburuk berefek kepada berkurangnya jumlah siswa yang ingin mengubah nama siswanya menjadi seorang mahasiswa dengan masuk ke universitas serambi mekkah, hal ini akan berakibat buruk terhadap kampus dikarenakan proses belajar mengajar tidak bisa dilakukan sepihak (hanya ada tenaga pengajar) hal buruk ini akan berimbas kepada tutupnya Prodi/jurusan dikarenakan tidak adalagi mahasiswa didalam satu jurusan/prodi.

Untuk menghindari hal ini terjadi mahasiswa harus membangun nalar kritis selaku agent of change dan juga iron stock, karena ketika mahasiswa sudah memiliki kesadaran dan ingin menyuarakan haknya hal buruk ini tidak akan terjadi.
“Ketika kita yakin dengan iktikat baik insha allah jalan panjang menuju kemerdekaan ideologi pasti terbuka”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here